Rabu, 27 Juli 2011

Usai Cicak vs Buaya, Kini Giliran Cicak vs Tokek

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) boleh berbangga diri ketika berhasil menumbangkan mantan Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji. Ya, dalam cerita “Cicak vs Buaya”, KPK yang dianalogikan layaknya cicak sukses mengirimkan buaya ke balik jeruji penjara. Namun, cerita ‘heroik’ itu agaknya menjadi tidak menarik jika diputar ulang saat ini. Pasalnya, salah satu aktor dalam serial itu, Chandra Hamzah, kini terbelit kasus yang cukup mengguncang Republik.


HINGGA saat ini, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin sepertinya bukan lawan sembarangan bagi Chandra. Tetapi, lebih dari itu. Merujuk nyayiannya dari tempat yang tersembunyi itu, Nazaruddin sepertinya layak digelari ‘Tokek’. Jadi, serial kali ini layak diberi judul ‘Cicak vs Tokek’. Bukan apa-apa, teriakan tokek..tokek… yang terus digulirkan Nazaruddin, agaknya semakin membuat Chandra Cs kelimpungan.

Namun, pimpinan KPK justru menilai tudingan Nazaruddin sebagai nyanyian biasa, tak perlu ditanggapi. Di sisi lain, di balik santainya pimpinan KPK menanggapi tudingan Nazaruddin, malah melahirkan persepsi negatif terhadap lembaga itu. Belakangan, desakan agar segera mundur dari kursi pimpinan KPK dialamatkan kepada Chandra M. Hamzah dan Ade Raharja.

Salah satu desakan mundur itu datang dari anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar, Nudirman Munir. Ia mengatakan, Panitia Seleksi Pimpinan KPK akan mempertanyakan kabar pertemuan Chandra M. Hamzah dan Ade Raharja dengan Nazaruddin dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

“Kita akan mempertanyakan ada apa di balik itu semua,” kata Nudirman. Secara pribadi, Nudirman curiga dengan Chandra atas penanganan kasus Bank Century. Hingga kini KPK belum berani menyatakan ada tindak pidana korupsi dalam proses bail out Rp6,7 triliun tersebut. Padahal, benang merahnya sudah jelas,” papar Nudirman di Gedung DPD/MPR RI, Jakarta, Rabu (27/7/2011).

“Dalam rapat kerja di Kejaksaan Agung dan KPK, saya bilang Pak Chandra sudah seperti pengacara Bank Century. Tidak ada memberi perluang bahwa ada tindakan pidana korupsi padahal terang benderang,” ucapnya.


Politikus Partai Golkar ini melanjutkan, mestinya KPK merayu Nazaruddin memberikan bukti berupa rekaman CCTV yang dimilikinya. Jika Chandra terbukti, maka Tim Etik KPK yang juga baru dibentuk kemarin, harus memberhentikannya sebagai pimpinan KPK.

Nudirman menegaskan, dirinya menyambut baik sikap Ade Rahardja yang mengakui pertemuan dengan Nazaruddin. Baginya, Ade lebih jantan. “Saya lebih seneng cara begitu, artinya lebih gentle,” katanya.

Karena itu, Nudirman menginginkan agar ada perlindungan bagi wisthle blower melalui perubahan UU Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. “Kita tidak mau Nazaruddin ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa,” katanya.

Sebelumnya, meski mengakui pernah bertemu dengan Nazaruddin, Ade Rahardja tetap membantah tudingan yang disampaikan Nazaruddin.

“Tidak ada deal-deal-an dalam penyidikan. Semua penyidikan didasarkan atas bukti yang cukup,” kata Ade melalui pesan singkat kepada wartawan, Selasa (19/7/2011).

Seperti diketahui, Nazaruddin dalam wawancaranya dengan Metro TV pekan lalu menuding Ade Rahardja bersama Wakil Ketua KPK Chandra M. Hamzah telah merekayasa kasus dugaan suap Wisma Atlet hingga menjerat Nazaruddin sebagai tersangka.

Nazaruddin mengungkapkan, Ade, Chandra, dan Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum sepakat untuk menghentikan kasus dugaan suap wisma atlet hanya pada penetapan Nazaruddin sebagai tersangka. Sebagai gantinya, kata Nazaruddin, Anas akan memuluskan langkah Ade dan Chandra sebagai calon pimpinan KPK.

“Anas dan Ade mengadakan pertemuan di suatu tempat, deal-nya Anas tidak boleh dipanggil (KPK), Angie (Angelina Sondakh) tidak boleh dipanggil, kasus hanya ditutup di Nazaruddin. Deal-nya, Ade dan Chandra akan dipilih sebagai pimpinan KPK,” beber Nazaruddin.

Namun, terlepas dari benar tidaknya tudingan Nazaruddin, yang pasti pimpinan KPK saat ini bukan lagi menghadapi buaya. Karenanya, agar lebih terhormat, mungkin tidak ada salahnya pimpinan KPK saat ini segera melepaskan predikat ‘cicak’nya. Dengan begitu, publik pun berharap ‘tokek’ segera keluar dari persembunyiannya. Selanjutnya, cicak dan tokek biarkanlah bernyanyi bersama. Suara siapa yang paling enak didengar? Mari kita tunggu.

Ishak H Pardosi
http://monitorindonesia.com/?p=41007 
http://monitorindonesia.com/?p=40987 
http://monitorindonesia.com/?p=40993 
http://monitorindonesia.com/?p=40997 
http://monitorindonesia.com/?p=41002 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar